Seminar yang diselenggarakan dengan tema ‘Cara Menggosok Gigi yang Benar’ dan ‘Cara Mencuci Tangan yang Benar’ diikuti anak-anak dengan antusias.Kami bukan ahlinya,tapi kami mempelajari secara otodidak untuk dapat disampaikan dan diajarkan kepada anak-anak SD Riung Gunung dengan cara yang sederhana.
Kurang lebih satu jam,acara seminar telah selesai dilaksanakan.Kami pun mengarahkan anak-anak untuk mengikuti lomba yang akan kami laksanakan,yaitu lomba menggambar cita-cita untuk kelas 1 sampai dengan 3 dan lomba ranking 1 untuk kelas 4 sampai dengan 6.Lagi-lagi anak-anak berhamburan keluar kelas dengan ricuh,berdesakan,menunjukkan antusias yang tinggi untuk mengikuti kegiatan ini.
Menciptakan rasa percaya diri anak-anak SD Riung Gunung adalah harapan kami.Dan melalui penanaman cita-cita sedini mungkin dan berani berkompetisi,harapan itu kami wujudkan.Sekalipun mereka adalah ‘anak-anak desa’ tapi kemampuan mereka tak ada bedanya,seperti semboyan SD Riung Gunung yang begitu mereka pahami dan mereka ucapkan dengan lantang,”Sanajan sisi gunung,nu penting nanjung !”.Ya,sebuah cita-cita tak pernah melihat siapa pencita-citanya,tak pernah melihat dimana ia berada.Cita-cita sanggup melawan keterbatasan.Dan itulah yang ingin kami tanamkan kepada mereka.
Alhamdulillah,acara berlangsung lancar.Acara diakhiri dengan salam ikrar HMTE di lapangan SD Riung Gunung.
“Salam ! Energi ! Energi...Energi...Energi...
Salam ! Energi ! Energi...Energi...Energi...”
“Ikrar ! Energi !
Kami anak energi
Kritis dan berani
Peduli terhadap lingkungan kami
Satu himpunan kami berjanji
Saling melindungi”
Salam dan ikrar Himpunan Mahasiswa Teknik Energi (HMTE) Politeknik Negeri Bandung menggema di siang yang terik.Anak-anak SD yang masih polos terpana karenanya.Hamparan kebun teh dan bukit-bukit yang menjulang tinggi di sekeliling SD Riung Gunung Laspada menjadi saksi terwujudnya kepedulian HMTE
Di lokasi yang berbeda,masih di Kampung Laspada,sebagian HMTE sedang memperbaiki biogas agar bisa digunakan oleh masyarakat Kampung Laspada.Perbaikan biogas ini merupakan target utama program kerja Energi Bina Desa tahun ini.Kegiatan ini melibatkan masyarakat setempat.Kami semua bergotong royong memperbaiki biogas.Bagi kami,hal ini merupakan implementasi untuk ilmu yang telah kami dapatkan.Mengabdi sambil belajar,kurang lebih begitu.


Pukul 14.00 kami tiba di basecamp,di sekitar masjid.Acara pengobatan gratis yang dilaksanakan lembaga lain,telah selesai dilaksanakan.Kami beristirahat sejenak dan merencanakan kembali acara selanjutnya.Ada dua agenda yang harus kami lakukan sore ini.Yang pertama adalah menjalin komunikasi dengan warga untuk kepentingan kegiatan Jika Aku Menjadi esok hari dan mengajak anak-anak bermain permainan tradisional.Tujuannya agar anak-anak tetap ingat dan percaya diri melakukan permainan-permainan tradisional.Dengan cara ini,kami harap mereka merasa didukung untuk tetap melakukan permainan tradisional agar tak hanya psikomotor saja yang digunakan seperti bermain games di HP,komputer atau PS tetapi juga motorik.Agenda ini sebetulnya kondisional,jika banyak anak-anak yang berkumpul maka dilaksanakan.Tetapi jika tidak,tidak masalah.Belum sempat kami mengajak mereka,mereka sudah terlebih dahulu mengajak kami.Anak laki-laki mengajak bermain bola dahulu sedangkan anak perempuan bermain sondah,loncat tinggi,pindah karet dengan sedotan,dan beberapa permainan tradisional lainnya yang kami tak begitu tahu namanya.


Tak terasa,maghrib pun tiba.Mentari hampir tenggelam di ufuk barat,hanya menyisakan warna jingga di atas hamparan kebun teh.Kami mengakhiri kegiatan bermain dan segera merapikan diri lalu shalat berjama’ah di masjid.Sambil menunggu waktu Isya,kami membaca Al-Qur’an,menghafal surat-surat,bercerita tentang nabi dan rasul dengan anak-anak.Masih dengan semangat yang sama,anak – anak mengikuti kegiatan ini
Di halaman belakang masjid,terlihat beberapa panitia sedang menyiapkan alat-alat untuk menonton film.Ada yang mengotak-atik laptop,memasang screen,mengatur infokus,dan menggelar karpet.Kami yang telah selesai melaksanakan ibadah shalat Isya,langsung menuju tempat menonton film.Tak sabar ingin segera menonton,begitupun anak-anak.Ada pula beberapa orang tua yang ingin ikut menonton.Judul filmnya yaitu ‘Rumah Tanpa Jendela’.Dengan memahami makna film ini,kami berharap mereka akan termotivasi untuk terus berusaha menggapai cita-citanya sekalipun keterbatasan dan kesulitan menghampiri mereka.
Pukul 21.00 WIB film selesai.Anak-anak satu per satu meninggalkan tempat ini untuk pulang ke rumah dan beristirahat.Setelah selesai membereskan semua peralatan,kami pun beristirahat.Rencana esok hari,kami akan melakukan kegiatan Jika Aku Menjadi dan kerja bakti merenovasi halaman masjid.Tetapi ada satu permintaan dari lembaga PAUD agar kami mengisi acara seminar kepada anak-anak PAUD.
Pagi-pagi buta,kami sudah beranjak menuju rumah-rumah warga yang menjadi target Jika Aku Menjadi.Udara terasa begitu dingin,tapi tentu saja tak membuat kami enggan melakukan ‘pengabdian’.Pagi-pagi seperti ini biasanya warga sedang sibuk memeras susu sapi sehingga kami ikut melihat dan mencoba memeras susu sapi.Bagi sebagian besar di antara kami,hal ini adalah pengalaman pertama.Meminum susu langsung setelah diperas adalah hal yang tak pernah kami lakukan sebelumnya.Dan ternyata tak mudah untuk memeras susu sapi.Susu sapi yang telah terkumpul ini nantinya akan dijual untuk diolah di KPBS.
Beberapa tim Jika Aku Menjadi mulai menyebar ke setiap rumah warga untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan oleh warga yang menjadi target.Kami memetik tomat,wortel,cabai,kopi,daun teh,sawi.Warga mengijinkan kami untuk memakan beberapa buah atau sayur yang kami petik.
Mengisi seminar di PAUD benar-benar bukan hal yang mudah.Ternyata tak mudah berkomunikasi dengan anak-anak berusia 3-5 tahun.Terlebih lagi,mereka belum begitu mengenal bahasa Indonesia.Ya,bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Sunda.Untungnya,kami dibimbing oleh beberapa orang guru PAUD disana.Meskipun kami merasa belum begitu optimal,namun melihat antusiasme dan respon yang positif dari anak-anak dan guru-guru PAUD,kami merasa semangat lagi.
Kerja bakti dilakukan bersama-sama dengan warga.Keringat menetes di kening kami.Tapi tak hanya lelah yang ada,melainkan rasa bahagia.Rasa bahagia karena peluh yang menetes adalah wujud dari semangat pengabdian,pengabdian kepada masyarakat.
Dua hari satu malam kami berada disini adalah dua hari yang menyenangkan dalam hidup kami.Berbagi rasa dan cerita adalah hal luar biasa bagi kami.Mengenal masyarakat Kampung Laspada merupakan sebuah pengalaman yang tak akan bisa dibeli. Waktu,tenaga,dan pikiran tak pernah sia-sia kami bagi.Bagi kami,lebih baik lelah dan sakit untuk mengabdi daripada duduk manis tak membawa perubahan.
Terimakasih,masyarakat Kampung Laspada.
Terimakasih,rekan-rekan HMTE.